Jumat, 01 Januari 2010

Sejarah Munculnya Ilmu Tasawuf

1. Latar Belakang Timbulnya Ilmu Tasauf Dalam Islam
Tentang kapan awal munculnya tasawuf, Ibnul Jauzi mengemuka¬kan, yang pasti, istilah sufi muncul sebelum tahun 200H. Ketika pertama kali muncul, banyak orang yang membicarakannya dengan berbagai ungkapan. Alhasil, tasawuf dalam pandangan mereka meru¬pakan latihan jiwa dan usaha mencegah tabiat dari akhlak-akhlak yang hina lalu membawanya ke akhlak yang baik, hingga mendatangkan pujian di dunia dan pahala di akherat.
2. Penamaan Sufi
Penamaan shufi tidak ditemukan secara pasti, dari kata apa asalnya. Ada perbedaan-perbedaan pendapat mengenai asal kata shufi ataupun tasawuf. Ibnu Taimiyah menyebutkan sebagian perbe¬daan-perbedaanyang ada sebagai berikut.
Dikatakan bahwa lafal shufi itu dinisbatkan (disandarkan) kepada ahli shofah (penghuni lorong dekat masjid Nabi). Ini tidak benar, karena kalau demikian maka pasti disebut shofiy.
Ada pula yang berpendapat, shufi itu dinisbatkan kepada shof depan di hadapan Allah. Ini pun salah, karena namanya jadi shofiy juga.
Konon ada yang menisbatkan shufi kepada Shufah bin Basyar bin Thanjah, satu kabilah dari Bangsa Arab, mereka bertetangga dengan Makkah dari zaman dahulu kala. Dinisbatkanlah orang-orang ahli ibadah (nassak) kepada mereka. Ini, walaupun sesuai untuk penisbatan dari segi lafal yaitu tepat jadi "shufi" namanya, namun penisbatan ini lemah juga. Karena mereka itu tidak terkenal dan tidak populer bagi kebanyakan ahli ibadah. Dan seandainya ahli ibadah itu dinisbatkan kepada mereka maka pastilah penisba¬tan ini sudah ada pada zaman sahabat dan tabi'in serta para pengikut merekayang pertama. Dan lagi pada umumnya orang-orang yang berbicara mengenai nama shufi itu tidak mengetahui kabilah ini, dan tidak suka kalau dinisbatkan kepada kabilah yang ada di zaman jahiliyah dan tidak ada di zaman Islam.
Dan dikatakan --ini terkenal-- bahwa shufi itu dinisbatkan kepada pakaian as-shuf/ bulu domba/ wool. (Majmu' Al-Fatawa oleh Ibnu Taimiyah 11/6 dan lihat 10/510 -20/150, As-Sufiyah `Aqidah wa Ahdaf oleh Laila binti `Abdillah, Darul Wathan, Riyadh, cet I, hal 1410H, hal 10-11).
Asal kata shufi dari pakaian shuf (bulu domba) ini dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, karena kenyataan yang ada pada masa Ibnu Taimiyah adalah mereka memakai pakaian kasar (bulu domba), sebagai refleksi zuhud (menahan diri agar tidak terlena oleh dunia), dan menampakkan kesederhanaan di dalam hidup dan menghiasi diri dengan akhlaqul karimah terhadap Allah serta seluruh mahluk-Nya.
Nabi SAW dalam kitab Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari Anas bin Malik, ia berkata:
"Ada satu kelompok sahabat yang datang ke rumah Nabi saw untuk menanyakan kepada isteri-isteri beliau tentang ibadah beliau. Setelah mereka diberitahu keadaan ibadah beliau, seolah-olah mereka menganggap ibadah itu masih terlalu sedikit. Kemudian mereka berkata-kata satu sama lain, lalu mereka bertanya, di mana posisi kita dibandingkan dengan Rasulullah saw padahal Allah telah mengampuni dosa beliau, baik yang terdahulu maupun yang akan datang? Lalu salah seorang dari mereka berkata: "Saya akan puasa sepanjang tahun dan tidak akan berbuka." Yang kedua mengatakan: "Saya akan bangun (shalat) malam dan tidak tidur." Yang ketiga berkata: "Saya akan menjauhi wanita dan tidak akan kawin selama-lamanya." Lalu Rasulullah saw datang kepada mereka seraya bersabda:
"Kamu kah yang telah berkata begini dan begitu tadi? Ketahuilah, demi Allah, akulah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan yang paling bertaqwa kepada-Nya, tetapi aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, dan kawin dengan perem¬puan. Maka barangsiapa yang membenci sunnahku bukanlah ia dari golonganku." (HR Bukhari dan lainnya).
Ibnu Taimiyah dalam menguatkan shuf (bulu domba) sebagai sebab penamaan shufi adalah karena mereka terkenal dengan pakaian shuf (bulu). Itu hanyalah menyebutkan gejala mereka pada masa itu dan sebelumnya, yaitu pakaian shufi sebagai refleksi dari zuhud. Tetapi ada pendapat lain tentang penamaan itu menunjukkan sebagian pemikiran mereka, yaitu pemikiran seperti yang disebutkan oleh Al-Biruni Abu Ar-Rahyan yang menisbatkan tasawuf kepada kata "Sofia" Yunani yaitu hikmah (filsafat), mengingat karena saling dekatnya pendapat-pendapatantara pendapat orang-orang shufi dengan para filosof Yunani kuno. (al- Tasawuf al mansya' wal mashadir, oleh Ihsan Ilahi Dhahir, hal 33-34).
Diantara tarekat –tarekat sufi adalah :
1. Tiijaniyah
2. Qodiriyah
3. Naqsyabandiyah
4. Syadzaliyah
5. Rifa'iyah
6. Dll.
Dan ada diantara tarekat-tarekat ini yang sudah bubar,akan tetapi sekarang kita menemukan terekat –tarekat lain yang tidak terlalu terkenal,dengan pengikut yang sangat sedikit sekali, dimana penyebarannya juga lambat.
3. Ucapan –Ucapan Tokoh Kaum Sufi
a. Uways al-Qorony,
"pendamlah potensimu di kedalaman bumi (biar tidak terjebak dalam takjub pada diri sendiri)"
b. As-Syibly, "aku mengenal Tuhanku lewat Tuhanku (ma'rifat sejatinya adalah anugerah Tuhan)
4. Buku-Buku Tentang Tasauf
a. Alfutuuhaatul makkiyah, yang dikarang oleh Ibnu 'Araby .
b. Quutul Quluub karangan Abu Tholib Al-Makky.
c. Ath-Tawashin karangan Alhallaj.
Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Istilah sufi muncul sebelum tahun 200H. Ketika pertama kali muncul, banyak orang yang membicarakannya dengan berbagai ungkapan. Alhasil, tasawuf dalam pandangan mereka meru¬pakan latihan jiwa dan usaha mencegah tabiatdari akhlak-akhlak yang hina lalu membawanya ke akhlak yang baik, hingga mendatangkan pujian di dunia dan pahala di akherat.
2. Asal kata shufi dari pakaian shuf (bulu domba) ini dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, karena kenyataan yang ada pada masa Ibnu Taimiyah adalah mereka memakai pakaian kasar (bulu domba), seba¬gai refleksi zuhud (menahan diri agar tidak lena oleh dunia), dan menampakkan kesederhanaan dan kemelaratan hidup di samping menahan diri dari berhubungan dan minta-minta pada orang,
Penutup
Segala puji bagi Allah yang Maha sempurna yang mengatur segala yang ada yang menghidupkan dan yang mematikan.
Saya berharap kepada pembaca agar tidak segan-segan mengingatkan saya apabila ternyata didalam tulisan ini terdapat kesalahan,kekeliruan, karena saya yakin bahwa tidak ada usaha yang sifatnya sempurna dan bahwa kebenaran itu milik Allah yang mungkin saja diilhamkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya .
Saya mengakhiri tulisan ini dengan berdo’a kepada Allah semoga shalawat tetap tercurah atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW , sahabat-sahabat beliau, pengikut-pengikut setia beliau sampai datangnya hari akhirat,amin...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar